Double Bed

It’s been a while since i posted something with english. Ah seriously English is too mean for me, once i don’t use it, i forgot a lot 😁. So here is some english post to brighten up my life. Still cute english with limited vocabs tho.

I went to Bandung at January 12th 2018 which is friday which is freeyay. My lower back pain? Still there. But i endured the pain like a wonder woman #proud.

Actually i considered to go to my ex-office first, but ended up doing nothing until 12 O’clock. Eventually i went to Bandung after being scolded by my father.

Clung! (Sounds of the bus).

I had booked hotel for one night at Dago through traveloka, idk i just wanted to enjoy my solitude, in other words, me time. So i went to Dago as i arrived at Leuwi Panjang.

To be honest, i had never booked hotel by myself so i think this basic experience would be priceless and needed in the future. Oh, the hotel was D’best Sofia Dago. A friend of mine was joking about how fool i am to search hotel with keyword “the best hotel in Bandung” then D’best hotel showed up πŸ˜‚ the fact is i searched randomly on traveloka and found hotel with affordable price and good facilities. Moreover they have a free slippery. (Oh… the hotel slippers is my favorite.)

After checked in at 6 p.m i enjoyed my time in one side of the double bed. Ah so lovely day, the vibe of hotel room somewhat reminded me about Snow MV by Zion T.

While playing this song, i enjoyed every second of my solitude. It was beautiful.

I looked at another side of the bed.

“Ah, hello Eggy, it’s been a while. This is Rere, the spoiled child with lower back pain”

“It’s been a long time dear Rere, let’s enjoy the moment with me. When was the last time you felt joy?”

And we were chit-chatting, deep talking and crying inside. Until the midnight came.

Sleep well, Eggy.

Iklan

I’ll do everything to be happy

Gue punya tiga blog, tiga instagram, akun line, twitter, dan facebook masing-masing satu. Semuanya aktif update. Gue butuh wadah untuk mengekspresikan diri, segala emosi harus dicurahkan.

Gak papa alay, i’ll do everything to be happy.

Gue suka denger kpop banget! Stereotip plastik, lipsync segala macem mah udah gak pernah gue waro. Gue multifandom yang nelen semua quality content yang diproduksi berbagai agency, gak peduli standar orang soal “lagu bagus” asalkan lagu itu works bikin gue gak sedih dan gak kesepian, gue bakal terus denger itu.

Gak papa disangka tasteless, I’ll do everything to be happy.

Kalau lagi sedih, makan pedes is the best. Sekali makan samyang, bakso aci masjay kuah merapi, atau richeese level 5, rasanya semua kesedihan jadi luntur sama cabe. Meskipun pada akhirnya lambung gue harus asam, sampai sekarang pun gue masih menyempatkan sesekali untuk makan samyang.

Gak papa perih dikit, i’ll do everything to be happy.

Gue benci gelap, gue benci sepi. Apapun gue lakukan agar nggak merasa sepi; ngedengerin lagu kpop yang seolah-olah banyak orangnya, nonton video orang jalan-jalan, ngechat dan ninggalin comment ke temen bahkan ke friendlist random.

Yang penting gue nggak sepi, yang penting gue nggak sedih. I’ll do everything to be happy.

Gue suka kalau merasa cantik. Gue potong rambut, beli online skincare yang gue mau, beli baju, nyisir, makeup-an tanpa butuh apa-apa keluar dan sepenuh hati memuji pantulan cermin.

Gak papa disangka narsis, i’ll do everything to be happy.

Gue sering makan buah pisang, katanya pisang bisa bikin bahagia. Gue mulai olahraga buat kesembuhan fisik dan batin, gue juga memanjakan apa yang gue mau; tidur saat mau tidur, makan saat mau makan, pergi saat mau pergi, cerita saat udah nggak kuat lagi, nangis saat mau nangis, meski nggak ngerti kenapa gue nangis.

Gak papa. I’ll do everything to be happy. Apapun itu asal rasa sedih menyeramkan itu segera hilang. Gak papa senengnya artifisial asal hidup ini nggak berhenti di tangan sendiri. Gak papa.

Untuk Aku Dua Jam yang Lalu

Hi bitch.

This life is really tough, isn’t it?

We don’t have a choice but pass it. If we wanna die, everyone would scolding you. Don’t die early, let grim reaper work.

I truly understand we used to feel that kind of thing, the soul of suicidal emo monster still there. Whenever some shit happen, it would eat your mental health. Don’t worry, it’s just another side of you. Let it uttered the rude words, crack the plate and cry a lot. But not suicide.

You still have a dreams.

Don’t cry over it, now you can’t do anything for reach your dreams. But in the future, when everything get better, let’s work harder. Until your dreams become reality that easily happen everyday.

Bertemu

Meski agak cuek soal hal ini, kadang sesedikitnya suka terbersit dalam hati.

“Jodoh gue lagi ngapain yak?”

Suatu hal umum yang akan dipikirin pria-wanita bujangan yang enggak lagi pacaran alias jomblo. Especially 20-an keatas yang udah ketar-ketir menerima banyak undangan pernikahan.

Tapi kadang aku mikir gini:

“Apa dia udah mati ya?”

Wajar. Soalnya nggak muncul-muncul. Wkwkwk..

Tapi aku sih siap-siap saja dengan skenario kayak itu, berarti paling ketemunya di surga. Disana orang bakal jadi berkali-kali lebih angelic. So, i don’t mind about that.

Tapi semisal dia masih hidup.. kenapa kita masih belum bertemu ya?

Hm.. mungkin saja ada salah satu yang tidak siap? Iya nggak?

Misal, si Acul adalah pria anak petani. Dia jodoh dengan si Bonita, putri dari pengusaha yang terdydyc. Lho kok bisa? Skenarionya begini.

Saat sudah lulus kuliah dari beasiswa, si Acul super duper kerja keras kemana-mana sehingga “porto”nya banyak, otaknya juga kelatih, sehingga Bonita mau mempercayakan rumah tangganya dihandle oleh si Acul. Akhirnya mereka menikah.

Nah beda ceritanya kalo timelinenya mereka ketemu pas masih SMP. Si Bonita kemungkinan nggak peduli sama si Acul yang beda level dan belum banyak porto dalam hidupnya, si Bonita akan melewati masa percintaannya dengan orang lain yang selevel. Sedang si Acul mungkin mengangan-angankan Benita pun mikir-mikir dulu, doi pantes atau nggak? si Bonita malu nggak jalan sama si Acul? ngobrolnya nyambung gak? dll. Disini kondisinya si Acul yang belum siap.

Apa aku Acul yang masih butuh persiapan? Apa aku Bonita yang menunggu orang siap-siap? Enggak tahu.

Yang jelas memang sayeu agak lebih PR daripada perempuan lain. I cringe easily, especially when guy flirt and modus with unnatural way. Seganteng apapun, i don’t like that kind of guy! Pick up line and playing with words is my part, so don’t dare to try if you don’t want to be cringy.

Sayeu juga nggak gampang kataji, apalagi kalau perihalnya tampang doang. Tahu nggak, kalau soal tampang mah nggak cuma cowok, gue bahkan bisa mengapresiasi cewek juga! Karena visual itu beda urusan. Lain halnya dengan chemistry dan listrik-listrik lainnya, bagi saya itulah yang berperan penting dalam memutuskan ngeceng tidaknya kita.

Hah, bisa jadi gue yang butuh persiapan. Bahkan kayaknya banyak banget!!!

Soal cringe itu yang agak peer sih, soalnya pacaran emang cringy. pasangan emang cringy. Percintaan emang cringy. Intinya sih gue nggak biasa dengan yang kayak gitu. Harus biasa ya? Wah iya, gue yang butuh persiapan berarti.

Kalo bener gue yang butuh, gue sangat bersyukur sekali. Artinya si pasangan gue lebih hebat dari gue. Kira-kira siapa ya? Nam joo hyuk? Atau Lee taeyong?

(Astagfirullah kalau sama mereka mah mau berapa tahun siap-siapnya)

Semoga saja si anu yang disebrang sana nggak nunggu-nunggu amat, sambil nunggu sambil mempersiapkan diri juga. Kalau dianya lagi dating sama orang yaudah titip dulu aja, dijagain sama orang lain dulu jodohnya, asik banget hemat.

saya sedang memantaskan untuk menjadi wanita yang lebih wanita! Bisa speak up juga bisa masak, bisa make dempul yang cowok pikir itu natural padahal engga, bisa nggak kpop kpop amat, sukses dan juga nggak gampang cringe.

Situ mas jodoh juga siap-siapin pick up line yang nggak cheesy ya, kalau cheesy lu jangan ngomong.

Cheerio.

Ngidol sehat

Currently i’m becoming addicted to one of the top boygroup in Korea. I watch their funny video everyday, literally everyday, damn.

At first i didn’t like them cause i thought, in my opinion, they have no taste. Their logo was suck, their fashion wasn’t my style, and their music is so loud, almost all of them relies on repetitive lyrics. But not every of them, some of their song contains amazing lyric actually. Sometimes i like their songs.

But they’ve learnt a lot. Their music video became one of the best. They’ve changed their logo too, it’s not that great logo but applicable enough, and the most thing i can appreciate is they’ve made logo for their fans too. But yeah maybe they’re not my fashion role models.

I watch them everyday, everynight, i laugh and cry for them, i fell in love with their colorful personality. until i realized that i spend a lot of time just for watched their video. And that’s not healthy.

I wonder what will they say if they meet me and knowing my current condition. Surely they’ll dissapointed, i know it’s not what they want through their lyrics on the song. Since they made their own music, so basically we can say their lyrics represented their opinion. Here is the lyrics:

“Stop
Stop watching and and start studying for your exams
Your parents and boss hate me
The video clips you watched, various pictures and tweets
V app, bon voyage
I know that you like it, what do you do when it’s good,
Stop. You can make MV theories later..”

See? They dissed their fans. Hahaha.

Then i think i know what will i do. i’ll love them with my way. My style.

I’ll do what they want me to do; hardworking everyday, can’t miss every little chance, learn a lot from the mistakes, create a good artwork with positive message, repeat, repeat, repeat, repeat, repeat.

Until we’re at the same level.

See ya.

Bitter

Terlalu banyak hal yang terjadi dalam 2 bulan ini, mostly pahit.

Resign, perpisahan, perpindahan, perubahan, penyakit, kesepian, kematian. Begitu banyak hal yang menyakitkan, yet i realized it shall pass, at the same time i know that a new pain will come, again and again.

Saat kamu merasa ini adalah awal dari produktivitas, kamu bangun pagi dan ternyata tubuhmu tidak bisa diajak kompromi, rasanya mengerikan. Dalam hatiku semangat itu meledak-ledak, tapi badan tidak bisa bergerak. Yang ada hanyalah semangat yang kian hari memudar, i wonder what do the survivors feel about this thing, it must be harder than me. But ya, i have another thing that makes me worse. Loneliness.

Banyak perpisahan yang kualami dalam 2 bulan ini, berpisah dengan kolega kantor, berpisah dengan kawan-kawan yang sekarang berubah menjadi sekedar profile pict kecil disisi kiri, juga berpisah dengan Bandung, kota kecil penuh kenangan.

Setiap hari aku menonton youtube hingga 3-5 jam sehari, menemukan sekumpulan orang yang tertawa dan bermain membuatku merasakan aku juga ikut bermain disitu, aku bahagia.

..tapi ternyata tidak. Di detik-detik terakhir video tersebut, aku sadar bahwa ini semua semu. Mereka yang di video tersebut mungkin tidak sebahagia itu, pun aku yang hanya menontonnya. Mereka adalah imaginary friend yang cepat atau lambat harus kulepas. Tentu aku ingin cepat.

Ingin rasanya semua segera berakhir, aku ingin sehat lagi, aku ingin melangkah lebih banyak lagi, bertemu orang-orang dan mendapat energi dari mereka.

Akan tiba saatnya kesepian bukan lagi tema utama. Aku percaya.

Pemuda Jam 4 Subuh

Langkah Rio berhenti di sebuah taman kota, menatap seorang pemuda yang melamun diatas sebuah ayunan.

Jam 4 subuh, dia selalu disana. Vandy si artis tenar.

“Gimana? Ada cerita apa lagi, Van?”

Vandy segera turun dari ayunan dan berlari dengan lincah, kemudian lompat memeluk Rio.

“Yo! Lu kemana aja njing, gue hampir beku nungguin!”

“Yaelah, ini gue yang kemana aja, atau lu yang kecepetan kesininya?” Rio menepuk kepala Vandy, kemudian melepaskan pelukan tersebut.

Bagi sebagian orang, mungkin pria sama pria berpelukan adalah pemandangan yang menjijikkan. Tapi tidak bagi mereka, mereka mempunyai sebutan wajar untuk ini: Bromance. Mereka berpelukan, saling bergandengan tangan, saling menggendong, kadang mereka juga saling menampar, menonjok dan menjotos, dan menurut mereka itu luar biasa menyenangkan.

Tak ada perasaan khusus lainnya, Vandy menganggap Rio sebagai sahabatnya sehidup-semati dan Rio menganggap Vandy sebagai anjing. Anak anjing yang lucu; dia suka tiba-tiba melompat, memeluk dan super penurut. Ya, Vandy lucu sekali.

Tapi tetap saja anjing!

Sebagai vocalist band terkenal, Vandy punya banyak fans. Apalagi wajah tampannya mendukung, pribadinya lincah dan suara indahnya membuat dia pantas-pantas saja dihisteriskan kaum Hawa. Yang membuatnya ‘anjing’ adalah, Vandy sedikitpun tak pernah menyukai mereka, senyum dan peluknya hanya fanservice belaka!

Tentu ia punya alasan. Fans Vandy dikenal sebagai yang paling berisik di Indonesia. Mereka ganas dan tak segan mengikuti Vandy kemana-mana, ada yang pernah menulis surat dengan darah menstruasi, ada yang pernah camping di depan rumahnya, ada juga yang pernah mencelakai mantan pacarnya. Semenjak itu Vandy tidak pernah mau punya pacar, semenjak itu juga Vandy cuma bisa bertemu Rio jam 4 subuh.

Rio yang baik mau-mau saja diajak Vandy bertemu setiap hari jam segitu. Dalam satu jam, Vandy biasanya curhat panjang lebar soal kerjaannya, dan Rio biasanya menanggapi seenak jidat; ia bukan konselor, Vandy paham.

“Harusnya gua seneng sih, jadwal padet, award juga kita selalu dapet, tapi kadang juga gue pengen happy-happy diluar gitu kayak orang, ga ada yang nyakar, ga ada yang motoin diam-diam.. Kayak dulu pas SMA..” Vandy bercerita sambil berayun di ayunannya.

Di ayunan sebelahnya, terduduk Rio yang cuma tersenyum kecil. “Makanya jadi cowok gak usah ganteng, van. Muka lo gue lindes pake motor aja, mau? bawa nih motornya sekarang”

“Tai.” Vandy menendang ayunan sebelah keras-keras, Rio cuma tertawa.

Selesai Rio tertawa, terdengar isak tangis yang pelan sekali.

“Van, lo nangis?”

“Nggak!”

“Lo nangis anjir!”

“Nggak, Yo! Nggak mau gue.. Ini mah keluar sendiri..”

“Halah si bego!” Rio segera memeluk Vandy. Pelan pelan Rio menepuk pundak Vandy. Isak tangis Vandy makin menjadi-jadi, keras sekali.

“Yo.. gue kangen sama lo..”

Rio tersenyum pahit. Ia juga rindu sekali dengan Vandy. Tapi ia tak bisa melakukan apa-apa lagi selain memeluk Vandy, dengan tubuhnya yang transparan.

Sudah satu tahun semenjak kematian Rio. Mayatnya tak pernah ditemukan, begitu pula motornya. Tapi Rio tak berniat mencari jasadnya, bukan itu yang membuatnya tak tenang.

“Gue bersyukur lo indigo, kita bisa ngobrol kayak biasa. Tapi kalo gini terus, gue nggak bisa balik, van..” ujar Rio, lembut.

“Tolong van, satu kali aja lo cerita yang seneng seneng. Satu kali aja.”

Vandy menggeleng, isak tangisnya terdengar semakin pilu. Rio tak bisa apa-apa. Padahal hanya dengan Vandy bahagia dan baik-baik saja, Rio sudah bisa kembali. Tapi sepertinya depresi Vandy kian memburuk. Rio hanya diam membeku, sebeku auranya.

Rio mendengar. Selama ini Rio mendengar cerita Vandy, meski ia tak jarang menanggapinya dengan candaan, diam-diam kebahagiaan Vandy adalah salahsatu prioritasnya. Ia selalu berdoa untuk kebahagiaan Vandy. Tapi Vandy terus-terusan menceritakan kisah sedih, bahkan hingga ajal Rio menjemput.

Vandy pernah bilang, jam 4 subuh itu sempurna. Tenang, tak ada orang yang mengganggu. Langitnya juga sangat indah.

“Suatu hari gue pengen curhat sama lo jam 4 gitu. Sambil lihat langit. Pasti asik”

Dan mereka tak pernah absen untuk bertemu di jam tersebut. Vandy memang sahabat Rio, sehidup semati.

 

___________________________________________

Astagfirullahal azim kenapa gue kayak nulis cerita wattpad anjir hahahhahahahha….

Jadi kisahnya sih, nggak tahu kenapa awalnya gue mellow gitu denger lagu V BTS yang judulnya 4 O’clock. Tanpa tahu artinya, gue sedih aja gitu. Iya, gue memang orangnya begitu.

Pas gue cari tahu artinya, ternyata jam 4 itu dia suka nungguin temennya .. YANG TERNYATA JIMIN BTS.

Entah apa yang dilakukan mereka jam segitu, kemungkinan besar sih curhat. Secara gitu lho, mereka katanya suka curhat bareng dan nangis bareng, bromance banget.

Kalau baca arti liriknya, langsung kebayang deh situasinya, apa yang dipikirin V saat itu, supah itu bikin kita mikir: ya Allaaaah ni orang bageur banget yaaa… Gue langsung empati dan mewek-mewek, padahal nggak kenal, padahal nggak suka juga. Huhuhuhu…

Dengan gue nulis ini, semoga aja kemellow-an aneh yang gue rasakan ini segera menghilang. Hahaha.