Dear Reggy: Baca ini Bila Kamu Sudah Pulih

pexels-photo-244371.jpeg

Do you remember how long we suffered from lower back pain? : 5 month and still counting. It’s a quite long time.

Kamu dapet ini sampai 5 bulan lebih pasti ada sebabnya. Sekarang rasanya aku sudah nggak ditahap blaming lagi. Udah cukup, memang kita harus mulai belajar memetik hikmah dari hal ini.

Hikmahnya? Buanyak. Semakin lama, mataku semakin jeli untuk menangkapnya. Alih-alih menyalahkan diri sendiri, aku cuma mau kamu untuk ingat sesuatu yang aku lihat sekarang, yang mungkin saat kamu sudah sehat bakalan kelupaan. Ya itu memang sifatmu yang kampret. Tapi kali ini mohon perhatikan ya 🙂

1. PULANG.

pexels-photo-126271.jpeg

Back then i though my brother rarely go back home, more than me, cause i know he’s always busy.

But one day my mother said “look at your condition! You rarely go back home when you worked and now you are sick and eventually can’t go anywhere but home. It means you should go home oftenly.”

“But mom i though i am the one who oftenly go back home, more than my brother”

“No, dear. He always found the time to go home, no matter how busy he is. Meanwhile you always busy.”

Yes. Itulah satu kesalahan kita, nggak pulang. Sakit ini mungkin teguran buat kita yang congkak dan ambis. Mau sesibuk apapun kita harus pulang, karena kalau ada apa-apa ujung-ujungnya pasti ke keluarga. Malu nggak sih lo pulang cuma pas sakit?

Kalau rasanya ribet, bawa aja hp, casan, dan dompet. Ga usah bawa kerjaan. The girl who bring small bag on a long journey is the swagest one, right?

2. Semua nggak seindah keliatannya

pexels-photo-415829.jpeg

Selama aku sakit, aku suka banget nonton vlog orang. Lewat tangan mereka aku bisa jalan-jalan ke cafe tanpa rasa sakit. Then i though “how lucky they are, they did everything, eat everything, go everywhere, and stay healthy”. Meski saat nonton hatiku happy, tapi pas video mau berakhir, aku langsung ngedown banget :(.

Sama ketika aku ngelihat instastory orang-orang, rasanya ngedown kalau ngelihat aktivitas mereka. Kerja, kuliah, makan, jalan-jalan, dapet penghargaan, dan apapun yang nggak mungkin aku dapatkan dalam kondisi begini.

Selang beberapa bulan kemudian (saat ini, ya, saat ini!) Salahsatu youtuber yang suka aku tonton tiba-tiba muncul di channel baru dan cerita bahwa dia kena hipotyroid.

Hipotyroid man.

Aku baru sadar bahwa nggak peduli orangnya siapa, hidup itu harus seimbang. Ini memang umur-umurnya angkatan gue “kena” sesuatu. Gue ngebayangin jangan-jangan semua vlogger yang gue liat juga lagi “nabung” penyakitnya. Mereka makan, jalan-jalan, doing something crazy, HEI DULU AKU JUGA!  Mungkin belum saatnya. Bukan berarti aku ngedoain yang jelek-jelek, tapi lifestyle memang menentukan nasib bakal dianterin kemana.

Kalau dipikir-pikir, aku mending sih ditegurnya pake LBP (yang sekarang indikasinya berubah jadi syaraf kejepit huhu). Seenggaknya damage yang paling parah bukan kematian, paling banter lumpuh. Ini juga amit-amit dan jarang kejadian.

3. Jangan Ambis

pexels-photo-313690.jpeg

Beberapa orang bisa mendapatkan sesuatu tanpa ambis dan overwork. Terima aja fakta itu, mereka beruntung dan diberkahi bakat. Bakat itu ada, percaya padaku, jangan sama motivator. Mario Teguh banyak bohongnya.

Tapi beberapa lagi, yang maksain kaya kamu, yang ngotot kayak kamu, yang sampe nggak makan kayak kamu, bakalan ngerasain akibatnya nanti.

Oke, mungkin awalnya manis, kamu dapet segala macem yang kamu perjuangkan, Tapi nanti, segalanya hancur cuma karena ambisimu yang nggak sehat. Seberapapun jagonya kamu, kalo nggak sehat ya susah ngerjainnya. Ngerti sih kamu punya mimpi, tapi jangan sampai sakit. Jangan jual jiwa apalagi cuma buat kesejahteraan orang lain. Jangan jadi bego.

4. Tanya Diri Sendiri

pexels-photo-356079.jpeg

Beberapa kali aku pengen mati. Technically aku emang kayak mayat, nggak bisa apa-apa, nggak ngelakuin apa-apa dan cuma muterin rumah yang disitu-situ aja. Seringkali mati rasa dan nggak punya emosi.

Aku pengen mati. Tapi nggak mau bunuh diri (karena nggak siap autojahanam), sebagai gantinya aku nggak peduli lagi sama apapun, mau ada yang menusukku dari belakang, mau ada hantu muncul dan mengagetkanku, mau ada apapun yang mengancam nyawa aku nggak takut.

Bahkan saat mati lampu (aku fobia gelap btw) aku nggak takut.

Hey, sekarang aku nggak takut apa-apa. Itu positifnya.

Tapi pengen mati itu selalu negatif.

Lalu aku dapet jawaban baru, mungkin ini soal kepercayaan. Aku percaya sama mahluk yang nggak bisa dilihat oleh mata kita, dan aku percaya diantara mereka ada yang jahat. Ada yang suka ngehasut.

Bagaimana cara ngebedain keinginan mati dari diri sendiri atau dari setan kampret bangsat tersebut? Caranya adalah dengan root cause. Yes i’m not even joking, sering-sering nanya why ke diri sendiri.

Kamu pengen mati? Kenapa? Beneran kamu pengen mati?

Nggak! Aku belum mau mati! Masih banyak yang pengen aku capai, aku belum bikin bangga orangtuaku, aku belum punya studio sendiri, aku belum mau kelar. Lagian kalau aku mati,  gimana kalau orang yang aku sayang juga jadi pengen mati?

Kalau itu jawabanmu, ya. Keinginan matimu itu dari setan.

Untuk muslim perbanyak sholat, zikir, shalat dan puasa. Bayangin semua itu jadi “tameng” buat mereka-mereka yang mau ngejahatin dari belakang. Untuk yang lain perbanyak ibadah dan mendekatkan diri sama Tuhan. Untuk yang gak punya tuhan, perbanyak meditasi.

Kalahin dia! Either setan, penyakit kiriman or negative vibes, semua bakal kalah kalau kita tenang dan dekat sama Tuhan.

5. Self healing

pexels-photo-267967.jpeg

Cuma berpikir positif tanpa minum obat itu bullshit. Tapi berpikir positif memang ngaruh pada rasa sakit, apalagi sakit yang kayak aku.

Susah menggambarkan rasa sakitnya pada orang yang nggak pernah ngerasain, pokoknya ini sakit bangetlah, dan sakit ini nggak hilang satu detikpun. Yang bisa cuma teralihkan.

Ya! Alihkan emosi.

Aku inget saat aku lagi sering banget nangis. Frustasi kayak orang bego. Tapi saat aku nangis, rasa sakitnya hilang. Makanya kalau udah nggak kuat, aku suka nangisin aja biar sakitnya hilang.

Aku inget juga saat aku kerja di tengah malem, saat itu semangatku lagi meluap-luap sampai nggak terbendung. Saat itu sakitnya juga nggak kerasa.

Ya, ini permainan emosi. Saat aku sedih banget atau saat semangat banget, aku bakal lupa sakit ini. Ya, sakitnya masih ada disitu, tapi kalah besar sama emosi yang lain. Man, pinter-pinter menipu diri.

Lupakan, lupakan bahwa kamu punya penyakit. Sering-sering seneng, bikin playlist lagu yang enak, makan enak, dan nonton film seru. Ngapain aja boleh deh yang penting kamu lupa. Lupain aja yang jelek-jelek, kayak dia tuh yang jelek.

6. Love yourself

pexels-photo-774866.jpeg

Cintai diri sendiri, sering-sering turutin apa yang kamu mau. Beberapa temen kita putus asa dan suicidal karena mereka terlalu maksain dan lupa senang-senang. Kita jangan gitu. Sesekali manjain diri sendiri, emosi dalam diri harus selalu dikasih makan, jangan sampai layu dan abu-abu.

Ye tapi jangan YOLO terus-terusan.

Kalau kamu cinta sama diri sendiri, kamu nggak mungkin makan makanan nggak sehat terus menerus. Kemana-mana belilah salad, belilah mineral water untuk minum, stoklah kimchi atau miso untuk probiotik karena yogurt juga nggak gitu bagus since ada susunya. Eat well. Sehatlah, bahagialah.

Kalau kamu cinta sama diri sendiri juga, kamu nggak mungkin keseringan mainan hp. Capek tahu mata, no lyfe itu nggak bagus.

Yuk pelan-pelan kita produktif. Dari awalnya cuma satu jam, jadi dua jam, terus tiga jam, lama-lama kekejar tuh 9 to 5 ala orang kerja. Persistence-lah, gak apa-apa sakit. Saat udah kekejar jam orang kerja, tanpa dapat penghargaan apa-apa juga udah keren banget. Daym.

Nggak apa-apa kita rapuh. Nggak apa-apa jelek dan nggak produktif. We did a lot of good things! We consumed a lot of medicine, herbs, teraphy, we did literally everything. If those didn’t work, that’s okay.

And if you’re healthy now, please. Please. Please i’m begging you.

Remember today.

Iklan

Mayat hidup

Memang tinggal bersama orang lain berbeda dengan tinggal sendirian. Kita harus menyatukan banyak pemikiran saat hidup bersama.

Seperti saat sekarang ini, aku DILARANG KERAS untuk tidur dipagi hari. Katanya dosa besar, temannya setan. Nggak tahu hadist dari mana, nggak tahu video youtube channel apa. Padahal aku suka kerja di malam hari, saat di rumah ada orang namun cukup senyap. Tidurku nggak cukup. Aku benci pagi hari, dinginnya nusuk, kakiku lagi kaku-kakunya, dan semua orang pergi.

Pagi hari adalah waktu dimana aku sedang sedih-sedihnya, terpukul-terpukulnya, seperti sekarang. Saat kamu sakit sendi, kamu nggak cuma dealing dengan nyeri sendimu, tapi juga kondisi psikologismu. Ngelihat semuanya bisa siap-siap untuk beraktivitas diluar rasanya iri dan sedih banget. Nggak mau lihat mereka, tapi aku nggak boleh tidur. Bapakku lebih suka aku melek dikamar dan sedih-sedihan daripada aku tidur. Dosa katanya, tumbuh tanduk setan nanti.

Terus aku akan dikunciin tanpa diberikan kunci depan rumah. Aku ini seekor kelinci yang ditaruh di kandang bersama seikat kangkung.

Belum lagi tetangga dan orang luar rumah yang mulai ngeselin. Bilang aku ketempelan lah, bilang aku seram karena suka ngomong sendiri lah, my father once said.

“Re, jangan suka ngomong sendiri, orang-orang takut lho ngobrol sama kamu”

“Oh. Bagus dong”

“APANYA BAGUS??!?”

Ya bagus, i don’t need them either. Ujarku didalam hati. Jelas dalam hati, panjang urusannya.

Orang-orang di kampung ini kayaknya belum pernah ketemu sama creative worker. Gue ini masih mending loh, kalau mereka tahu bahwa ada diluar sana yang nyembah setan, mungkin mereka nggak akan bisa makan. Semoga cakrawala mereka meluas.

Gue jelas udah nyerah sama nyeri sendi ini. Tulang-tulangku tambah parah, terlebih udah nggak pernah diantar berobat lagi karena semua sibuk. Sekarang aku benar-benar nggak peduli mau lumpuh atau mati, ya silakan.

Kelihatan banget mental health gue bermasalah, ya?

Kalian akan tahu kalau jadi gue. Nggak ada yang nggak sarap dengan kondisi kayak gini, gue jamin. Rasanya kayak dipasung. Nggak ada yang nyemangatin secara real pula. Udah 4 bulan gue bertahan di kondisi ini, dan ini susah.

Sebenarnya ini cuma luapan sesaat kok, aku tahu persis aku kayak apa. Emosiku emang ada fasenya, kadang kalo lagi positif ya akan tetap positif walaupun sakitnya tambah parah, tapi kali ini memang nggak kuat. Nasib post ini juga nggak tahu akan dihapus atau nggak. Yang jelas aku paham dengan diri sendiri dan akan melakukan apapun untuk menyelamatkan diri.

Meski ini juga belum cukup.

Love yourself

approval-female-gesture-hand-41373.jpeg

Aku udah hampir 3 bulan nganggur, dalam artian nggak jadi pegawai di kantor. Ini karena LBPku yang nggak kunjung sembuh bikinku nggak pede untuk lamar-lamar ke perusahaan. Kebayang deh harus stay duduk 9 to 5 saat belum sembuh total, trus aku mau minta istirahat tiap 30 menit gitu? duh baru masuk udah princess banget ya, takut nyusahin.

Tapi, kita tahu kalau nganggur lama itu nggak bagus karena bakal muncul anggapan bahwa produktifitas kita menurun. So bagaimanapun, aku harus kerja semampu kondisiku.

Sekarang aku ambil freelance, itu juga ngerjainnya lamaaaaaaaaa banget karena jadi gampang pegel dan sakit kalau duduk/stay dalam satu posisi lama, butuh peregangan sesering mungkin. Untungnya meski delay lamaaa banget, pemilik projek nggak protes.. makasih ya Allah :’)

Oh ya, dari post-post sebelumnya bisa kita lihat ya, aku ini stress parah. Soalnya kaget sih dari yang tadinya hidup dinamis, kerja pagi sampe malem, begaul diluar sama temen, bikin komik di instagram, sekarang nggak bisa produktif dan kemana-mana karena duduk setengah jam aja pegel, jadi nggak bisa naik mobil lama gitu lho.

BTW rumahku ini , cikarang timur ini emang terpencil banget kan, satu-satunya tempat hiburan kami adalah alfamart 😂 so kalau mau ke mall atau tempat hiburan lain harus naik mobil dulu setengah sampai satu jam. Dan biasanya daku menggeliat panik kepegelan. Gojek dan jek jek online lainnya pun langka di Cikarang timur sini. Boro-boro nge go-food.

Makanya aku kayak terperangkap dirumah, nggak bisa kemana-mana, nggak ketemu siapa-siapa, cuma ada sodara yang bantu bersihin rumah dan dia tuh ngeluh mulu. Kebayang nggak sih elu stress, kaki lu senut-senut trus ada yang ngeluuuuh mulu didepan lu, dan isinya tuh ya Allaaah “duh pegel nih” “duh gatel nih” “kok setrikaan nggak selesai-selesai ya?” Bayangin, itu hampir 3 bulan begitu.

Wow, gila. Gue bakal jadi gila.

Dan emang saat itu gue gila. Parah. Tulisan gue galau melulu, gue bikin finstagram untuk curhat kapanpun dibutuhkan, gue nggak ada temen, gue nggak bisa kerja, gue dimarahin juga karena disangka kurang effort dalam proses penyembuhan. Wooowwwwww olahraga tiap hari minum obat tiap hari dan fisioterapi itu teh kurang effort yaa karena nggak sembuh-sembuh?

Sampe akhirnya daku marah banget. Ada drama gitu lah pokoknya. Duh ingin kuelus-elus kepalaku saat itu. Saat ada konflik berat saya emang cenderung depressed. Harus terbiasa soal itu.

Hingga akhirnya aku capek. Aku capek kesel terus, aku capek sedih terus, aku capek stress terus, aku capek nuntut Tuhan dan aku capek lari dari masalah dengan bikin artificial happiness dan nonton vlog orang yang hidupnya kelihatan enak.

Lama-lama.. yaudah. Apa mau dikata? Kondiainya memang begini adanya, aku harus belajar terima.

Saat aku nonton video blog orang, rasa senengnya bakal sangat memuncak dan nanti hilang lagi, tapi saat belajar menerima diri, rasanya lain. Awalnya pahit banget nerima kondisi ini, apalagi kalau sambil lihat instastory dimana orang-orang pada pamer dan suka kemewahan. Tapi lama-lama aku sadar kalau mereka juga punya masalah, dan itu nggak dipost.

Aku belajar sayang sama diri sendiri, belajar untuk nggak minder dan ngerasa tertinggal, belajar menerima kondisi seburuk apapun itu. Yaudaaah aku orangnya kayak gini, gampang stress tapi aku sayang. Penyakitan tapi sayang. Minderan, kulitnya jelek, tapi yaudah lagi-lagi aku sayang.

heart-mussels-harmony-love-161002.jpeg

Karena aku sayang, aku beli skincare biar akunya cantik, aku beli kacamata baru yang anti radiasi biar mataku nggak sakit lagi, aku juga jalan-jalan ke Bandung, kota yang aku juga sayang. Ketemu temen-temen yang aku sayang. Karena aku sayang juga, aku nambah-nambahin ibadah untuk kesehatan rohani.

Aku sayang aku, makanya aku nggak mau aku males. Hanya pada baru-baru ini aku nggak mempedulikan sakitku, kerjaanku musti tuntas dan aku musti duduk. Tapi tetap saja, bakalan diselingin stretching karena aku sayang aku.

Ini semua bisa aku lakukan karena aku banyak bertanya pada diri sendiri. “Kamu maunya apa? Ayok kita lakukan yang kamu mau”. Kira-kira kayak gitu. Dan jawabannya banyak dong, yang paling kuat sih aku mau produktif, mau punya uang lebih banyak daripada tahun lalu. Cuma ya, penyakit ini emang tantangan yang serius buat produktif. Ngelemesin otot tiap pegel duduk memang bisa bikin mood turun.

Trus “aku musti apa biar kamu tetep semangat?”

Ternyata yang aku inginkan adalah motivasi. Nggak ada satu orangpun dirumah ini yang bisa bikin gue termotivasi, selain… Diri gue sendiri.

Maka gue mulai nulis apapun buat dibaca besok. Mulai dari kobaran kata di dalam to do list sampe motivasi receh muji diri sendiri. Nulisnya di twitter dan notes hp dan laptop, ini semata-mata biar besok gue lihat.

Dan ini beneran works, nyata. Kerjaan gue yang diulur-ulur sekarang udah kesentuh. Sakit kaki terkalahkan sama semangat karena part awal kerjaan bisa selesai.

Yang bisa nolong kita ujung-ujungnya yaa… Kita sendiri. Makanya harus sayang sama diri sendiri, jangan pernah benci. Nggak boleh.

Love yourself, love myself.

 

Double Bed

It’s been a while since i posted something with english. Ah seriously English is too mean for me, once i don’t use it, i forgot a lot 😁. So here is some english post to brighten up my life. Still cute english with limited vocabs tho.

I went to Bandung at January 12th 2018 which is friday which is freeyay. My lower back pain? Still there. But i endured the pain like a wonder woman #proud.

Actually i considered to go to my ex-office first, but ended up doing nothing until 12 O’clock. Eventually i went to Bandung after being scolded by my father.

Clung! (Sounds of the bus).

I had booked hotel for one night at Dago through traveloka, idk i just wanted to enjoy my solitude, in other words, me time. So i went to Dago as i arrived at Leuwi Panjang.

To be honest, i had never booked hotel by myself so i think this basic experience would be priceless and needed in the future. Oh, the hotel was D’best Sofia Dago. A friend of mine was joking about how fool i am to search hotel with keyword “the best hotel in Bandung” then D’best hotel showed up 😂 the fact is i searched randomly on traveloka and found hotel with affordable price and good facilities. Moreover they have a free slippery. (Oh… the hotel slippers is my favorite.)

After checked in at 6 p.m i enjoyed my time in one side of the double bed. Ah so lovely day, the vibe of hotel room somewhat reminded me about Snow MV by Zion T.

While playing this song, i enjoyed every second of my solitude. It was beautiful.

I looked at another side of the bed.

“Ah, hello Eggy, it’s been a while. This is Rere, the spoiled child with lower back pain”

“It’s been a long time dear Rere, let’s enjoy the moment with me. When was the last time you felt joy?”

And we were chit-chatting, deep talking and crying inside. Until the midnight came.

Sleep well, Eggy.

I’ll do everything to be happy

Gue punya tiga blog, tiga instagram, akun line, twitter, dan facebook masing-masing satu. Semuanya aktif update. Gue butuh wadah untuk mengekspresikan diri, segala emosi harus dicurahkan.

Gak papa alay, i’ll do everything to be happy.

Gue suka denger kpop banget! Stereotip plastik, lipsync segala macem mah udah gak pernah gue waro. Gue multifandom yang nelen semua quality content yang diproduksi berbagai agency, gak peduli standar orang soal “lagu bagus” asalkan lagu itu works bikin gue gak sedih dan gak kesepian, gue bakal terus denger itu.

Gak papa disangka tasteless, I’ll do everything to be happy.

Kalau lagi sedih, makan pedes is the best. Sekali makan samyang, bakso aci masjay kuah merapi, atau richeese level 5, rasanya semua kesedihan jadi luntur sama cabe. Meskipun pada akhirnya lambung gue harus asam, sampai sekarang pun gue masih menyempatkan sesekali untuk makan samyang.

Gak papa perih dikit, i’ll do everything to be happy.

Gue benci gelap, gue benci sepi. Apapun gue lakukan agar nggak merasa sepi; ngedengerin lagu kpop yang seolah-olah banyak orangnya, nonton video orang jalan-jalan, ngechat dan ninggalin comment ke temen bahkan ke friendlist random.

Yang penting gue nggak sepi, yang penting gue nggak sedih. I’ll do everything to be happy.

Gue suka kalau merasa cantik. Gue potong rambut, beli online skincare yang gue mau, beli baju, nyisir, makeup-an tanpa butuh apa-apa keluar dan sepenuh hati memuji pantulan cermin.

Gak papa disangka narsis, i’ll do everything to be happy.

Gue sering makan buah pisang, katanya pisang bisa bikin bahagia. Gue mulai olahraga buat kesembuhan fisik dan batin, gue juga memanjakan apa yang gue mau; tidur saat mau tidur, makan saat mau makan, pergi saat mau pergi, cerita saat udah nggak kuat lagi, nangis saat mau nangis, meski nggak ngerti kenapa gue nangis.

Gak papa. I’ll do everything to be happy. Apapun itu asal rasa sedih menyeramkan itu segera hilang. Gak papa senengnya artifisial asal hidup ini nggak berhenti di tangan sendiri. Gak papa.

Untuk Aku Dua Jam yang Lalu

Hi bitch.

This life is really tough, isn’t it?

We don’t have a choice but pass it. If we wanna die, everyone would scolding you. Don’t die early, let grim reaper work.

I truly understand we used to feel that kind of thing, the soul of suicidal emo monster still there. Whenever some shit happen, it would eat your mental health. Don’t worry, it’s just another side of you. Let it uttered the rude words, crack the plate and cry a lot. But not suicide.

You still have a dreams.

Don’t cry over it, now you can’t do anything for reach your dreams. But in the future, when everything get better, let’s work harder. Until your dreams become reality that easily happen everyday.

Bertemu

Meski agak cuek soal hal ini, kadang sesedikitnya suka terbersit dalam hati.

“Jodoh gue lagi ngapain yak?”

Suatu hal umum yang akan dipikirin pria-wanita bujangan yang enggak lagi pacaran alias jomblo. Especially 20-an keatas yang udah ketar-ketir menerima banyak undangan pernikahan.

Tapi kadang aku mikir gini:

“Apa dia udah mati ya?”

Wajar. Soalnya nggak muncul-muncul. Wkwkwk..

Tapi aku sih siap-siap saja dengan skenario kayak itu, berarti paling ketemunya di surga. Disana orang bakal jadi berkali-kali lebih angelic. So, i don’t mind about that.

Tapi semisal dia masih hidup.. kenapa kita masih belum bertemu ya?

Hm.. mungkin saja ada salah satu yang tidak siap? Iya nggak?

Misal, si Acul adalah pria anak petani. Dia jodoh dengan si Bonita, putri dari pengusaha yang terdydyc. Lho kok bisa? Skenarionya begini.

Saat sudah lulus kuliah dari beasiswa, si Acul super duper kerja keras kemana-mana sehingga “porto”nya banyak, otaknya juga kelatih, sehingga Bonita mau mempercayakan rumah tangganya dihandle oleh si Acul. Akhirnya mereka menikah.

Nah beda ceritanya kalo timelinenya mereka ketemu pas masih SMP. Si Bonita kemungkinan nggak peduli sama si Acul yang beda level dan belum banyak porto dalam hidupnya, si Bonita akan melewati masa percintaannya dengan orang lain yang selevel. Sedang si Acul mungkin mengangan-angankan Benita pun mikir-mikir dulu, doi pantes atau nggak? si Bonita malu nggak jalan sama si Acul? ngobrolnya nyambung gak? dll. Disini kondisinya si Acul yang belum siap.

Apa aku Acul yang masih butuh persiapan? Apa aku Bonita yang menunggu orang siap-siap? Enggak tahu.

Yang jelas memang sayeu agak lebih PR daripada perempuan lain. I cringe easily, especially when guy flirt and modus with unnatural way. Seganteng apapun, i don’t like that kind of guy! Pick up line and playing with words is my part, so don’t dare to try if you don’t want to be cringy.

Sayeu juga nggak gampang kataji, apalagi kalau perihalnya tampang doang. Tahu nggak, kalau soal tampang mah nggak cuma cowok, gue bahkan bisa mengapresiasi cewek juga! Karena visual itu beda urusan. Lain halnya dengan chemistry dan listrik-listrik lainnya, bagi saya itulah yang berperan penting dalam memutuskan ngeceng tidaknya kita.

Hah, bisa jadi gue yang butuh persiapan. Bahkan kayaknya banyak banget!!!

Soal cringe itu yang agak peer sih, soalnya pacaran emang cringy. pasangan emang cringy. Percintaan emang cringy. Intinya sih gue nggak biasa dengan yang kayak gitu. Harus biasa ya? Wah iya, gue yang butuh persiapan berarti.

Kalo bener gue yang butuh, gue sangat bersyukur sekali. Artinya si pasangan gue lebih hebat dari gue. Kira-kira siapa ya? Nam joo hyuk? Atau Lee taeyong?

(Astagfirullah kalau sama mereka mah mau berapa tahun siap-siapnya)

Semoga saja si anu yang disebrang sana nggak nunggu-nunggu amat, sambil nunggu sambil mempersiapkan diri juga. Kalau dianya lagi dating sama orang yaudah titip dulu aja, dijagain sama orang lain dulu jodohnya, asik banget hemat.

saya sedang memantaskan untuk menjadi wanita yang lebih wanita! Bisa speak up juga bisa masak, bisa make dempul yang cowok pikir itu natural padahal engga, bisa nggak kpop kpop amat, sukses dan juga nggak gampang cringe.

Situ mas jodoh juga siap-siapin pick up line yang nggak cheesy ya, kalau cheesy lu jangan ngomong.

Cheerio.